SELAMAT DATANG DI RUMAH SUSINDRA

Destin (9 tahun) dan Binbin (5,5 tahun) tak bisa jauh dari pantai.

Bermain dengan balok kayu di laut? BISA!

Destin (9 tahun) dan Binbin (5,5 tahun) tak bisa jauh dari pantai.

Susi Susindra

Akhirnya kelihatan juga.

Destin Al Aqsha Pertama Susindra

Si sulung di keluarga Susindra

Bintang "BINBIN" Akbar Kedua Susindra

Anak kedua dan terkecil di keluarga Susindra

Desa Penghasil Garam Di Jepara Jilid 2

Jujur saja, saya kaget mengetahui semua teman saya tidak tahu bahwa Jepara memiliki berhektar-hektar tambak garam. Areanya membentang jauh sekali sampai ke kota tetangga, kota Demak. Berkilo-kilo meter jalan alternatif menuju Semarang melalui jalan pesisir pantai menyajikan hamparan tambak udang, bandeng, dan garam. Saya saja sampai hafal banget saking seringnya melewati jalan itu jika ingin mengunjungi emak-bapak dan saudara-saudari di Wedung - Demak. Mungkin saking terbiasanya, saya merasa semua juga tahu. Naluri blogger saya tergelitik. Waktunya action, kembali memperkenalkan kota tercinta, Jepara. Kalau dulu  aktif di blog sebelah yang menyajikan banyak informasi tentang Jepara, kali ini di sini saja ya. Biar nyambung dengan posting sebelumnya: Desa Penghasil Garam di Jepara.

tambak garam di Jepara




Di Jepara, ada beberapa desa penghasil garam, yaitu: desa Panggung, Kedung Malang, Kalianyar dan beberapa desa lagi (saya lupa) yang berbatasan dengan Demak. Tambak garamnya membentang puluhan kilometer di jalan beraspal yang juga merupakan jalur alternatif menuju Demak dan Semarang melalui pesisir. Dahulu tambak garam tak sebanyak ini. Dahulunya desa-desa ini penghasil udang windu. namun karena banyak yang kolaps, mereka beralih ke tambak garam yang lebih minim modal. 

Minim modal? Iya. Modal terbesar hanya sewa lahan (jika tidak punya) dan membuat kincir angin. Sisanya diserahkan pada alam. Laut dan matahari adalah modal gratis mereka. Modal yang lain adalah membayar buruh angkut garam yang semuanya adalah perempuan. Perempuan Jepara dikenal sebagai wanita tangguh dan mudah dicari untuk menjadi kuli. Biayanya tak mahal. Per sak yang diangkut dikenai biaya sekitar 2500 rupiah tergantung jauh dekatnya jarak angkut. maaf, info yang ini saya kurang update. 
Wanita tambak garam



Kendala utama petani garam adalah naik turunnya harga garam. Jika garam langka, harganya mahal. Jika harga banyak, akan turun sangat drastis. Para petani garam yang memiliki modal akan membuat rumah penyimpanan garam seperti di foto atas.

Kincir angin untuk mengisi air tambak garam. prinsip kerjanya sederhana, tapi tetap mengagumkan

Gambar garam siap jual dan kincir angin. fotonya lumayan bagus ya

Proses memanen



Melihat cara petani garam bekerja sangat menyenangkan. Jujur, say masih tahap pengamat. Pernah berhenti untuk bertanya-tanya, tetapi itu sudah lama. Tak tersisa informasi yang bisa diingat. Semoga saja di musim kemarau nanti saya bisa menggali informasi lengkap cara membuat garam. Yang saya tahu, tambak diratakan sampai padat seperti di gambar atas lalu dialiri air laut. Setelah beberapa hari, garam bisa mulai diserok dengan alat yang mirip untuk mengumpulkan padi di pengeringan. Alatnya sederhana saja, dari kayu jati. Seperti disapu. 


~~*~~*~~*~~*~~*~~*~~


Itulah kisah foto yang ingin saya bagi hari ini. Terima kasih ya sudah mampir di sini. Pengen tahu tulisan saya yang lebih serius? Ada di BlogsusindraCatatan Wanita, dan Jelajah Jepara.

Desa penghasil Garam di Jepara

Turnamen Foto Perjalanan. Mata saya memangkap event bagus yang ini. Langsung semangat mencari-cari foto yang bisa diikutkan ke event ini. Perjalanan saya menemukan event ini sudah dimulai sejak 8 Agustus 2012. Gila ya.. sudah sepanjang itu estafetnya dan saya baru tahu. Kemana saja saya?
Turnamen foto perjalanan #34: Kampung



Foto ini diambil di desa Panggung kecamatan Kedung kabupaten Jepara. Desa penghasil garam di Jepara. Masyarakatnya masih hidup sederhana. Seperti inilah jika musim hujan tiba. Bisa jadi usaha mereka mandeg atau waktu panen garam lebih lama. Musim rendeng adalah waktunya panen uang. Waktunya garam yang disimpan di rumah garam dibuka. Seperti celengan, rupiah pun keluar dan membuat hati berbunga.

Suasana tambak garam jika musim hujan

Foto ini diikutkan Turnamen Foto Perjalanan #34 : Kampung oleh mbak Monda.
~~**~**~**~**~**~**~**~~


Itulah kisah foto yang ingin saya bagi hari ini. Terima kasih ya sudah mampir di sini. Pengen tahu tulisan saya yang lebih serius? Ada di BlogsusindraCatatan Wanita, dan Jelajah Jepara.

Sadar Kamera

Ekspresi bayi yang sadar kamera pertama kali tak selalu menggemaskan. Kadang sangat-sangat lucu dan membuat tertawa ngakak. Seperti saya yang setiap kali melihat foto ini, saya sulit menahan tawa. Ini dia foto selfie sang papa bersama bayinya.

Bayi Binbin tertarik sekali dengan lampu kelap-kelip kamera digital dan berkonsentrasi ke sana. Ia masih berusia 3 bulan.


~~~**~**~**~**~**~**~**~~~

Itulah kisah foto yang ingin saya bagi hari ini. Terima kasih ya sudah mampir di sini. Pengen tahu tulisan saya yang lebih serius? Ada di BlogsusindraCatatan Wanita, dan Jelajah Jepara.

Sabtu Merindu


Sabtu pagi ini,
Kumerindu pada hangatnya mentari. 
Bahkan pada rona merah ketika pertama kali cahayanya mengintip. 
Kumerindu birunya langit. 
Ketika awanpun enggan menjejak. 
Kumerindu pada pada tenangnya laut.
Ketika nelayan tersenyum membawa buah laut.
Kumerindu pada jernihnya laut. 
Ketika sampah banjir tak menyakitinya. 
Kemrindu… kumerindu… kumerindu. 
Karena aku manusia. 
Karena aku mudah lupa 
Pada hari-hari suram 
Bayangan banjir dimana-mana. 
Dan sekarang kumerindu pada damainya 
Musim lalu, musim yang sempat kukeluhkan panasnya.

Puisi Sabtu Merindu ini dibuat dadakan di hari Sabtu yang dingin
Ketika hujan di Jepara mulai merintik

~~**~**~**~~


Sabtu Merindu. Saya malu mengakui kerinduan ini. Apalagi menumpahkannya dalam puisi asal jika bisa dikatakan itu sebuah puisi. Saat ini saya benar-benar merindukan mentari. Saya ingin banjir yang mengelilingi kota Jepara segera surut. 


Saya tak ingin mengeluh tentang jemuran yang menumpuk. Atau tumpukan kasur yang basah pada banjir yang lalu. Tak juga pada jalan-jalan pusat kota yang mulai berlubang sana-sini. Saya juga tak sanggup mengeluh ketika seikat sawi dihargai 8000 ribu dan itupun tak ada sayurnya. Saya tersenyum pedih melihat banyak wanita yang juga antri bensin sampai berratus-ratus meter ketika hujan masih setia di Jepara. Tidak. Duka ini adalah duka semua rakyat Indonesia. Bahkan duka masyarakat dunia yang mendapatkan anomaly cuaca. Saya hanya merindukan mentari sesekali muncul seperti harapan akan surutnya banjir dan membaiknya aktivitas masyarakat. Kumerindu mentari, pada cahaya dan hangatnya.


Posting ini diikutkan Giveaway Sabtu Merindu pakde Cholik.


Menunggui Dede Tidur

Siapa yang tak suka punya adek bayi? Destin kecil suka banget punya adek bayi. Apalagi adeknya lucu banget.
Masih edisi lihat-lihat foto masa bayinya anak-anak, saya menemukan banyak sekali foto yang sayang jika hanya disimpan di harddisk. Apalagi foto-foto tersebut pernah hilang dan saya beruntung punya suami yang pinter merecovery files di hard disk yang mati. Saya pernah menceritakannya di blog sebelah. Waktu itu, rasa sedih kehilangan semua foto keluarga terasa sangat menyesakkan. Hiks..

Destin si penjaga adek
Mengingat kisah itu, saya jadi ingat asal muasal pembuatan blog Kisah Susindra ini. Maksud hati memang untuk mengingat semua masa kanak-kanak Susindra. Agar kelak mereka bisa membaca kisah mereka di sini.

Saat ini saya sudah sampai di folder OKTOBER 2008. Di album ini saya menemukan banyak sekali foto-foto lucu. Dan foto yang paling saya suka adalah foto ketika Destin tertidur di samping adeknya. Saya ingat, saat itu saya sedang menyiapkan keperluan mandi Binbin. Saya minta tolong mas Destin menjaga adeknya. Hanya merebus air dan menyiapkan baju. Juga merapikan tempat tidur karea Binbin selalu tertidur usai mandi.

Destin tertidur
Ketika semuapersiapan saya selesai, saya menemukan mas Destin tertidur pulas di samping adeknya. Wealah mas Destiiinn.....
Binbin si adek masih eksis dan seneng difoto.
Setelah menata posisi tidur mas Destin, akhirnya dede Binbin pun bisa saya mandiin dan segera tertidur di sebelahnya setelah minum ASI.

~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~
Itulah kisah foto yang ingin saya bagi hari ini. Terima kasih ya sudah mampir di sini. Pengen tahu tulisan saya yang lebih serius? Ada di Blogsusindra dan Catatan Wanita.

Juara Barengan

Hari minggu kemarin kami berencana pergi ke rumah kakek-nenek di Demak. Namun karena hujan, kami batal ke sana. DnB Susindra agak kecewa karena mereka sudah siap sejak jam 5 pagi. Tak ada acara lain selain bermain di rumah saja. Nah, hari ini mereka libur lagi. Kami tidak mengagendanan ke demak lagi. Khawatir hujan lagi dan mereka kecewa lagi. Semoga saja Minggu depan tidak hujan. Jadi kami bisa ke Demak.

Hari ini kami mengajak anak-anak ke desa Kecapi Jepara. Ke desa yang pernah kami tinggali selama satu tahun. Kami pernah mengontrak rumah di desa ini dan setiap beberapa waktu tetap menjalin silaturrahmi di sana. Salah satu yang membuat anak-anak suka di sana selain lingkungan desa yang asri adalah KEBEBASAN BERMAIN PS. Bagi anak-anak, Kecapi = bermain PS sepuasnya. Kami sengaja membatasi kegemaran anak-anak ini karena sebagai pencegahan kecanduan game sekalligus reward karena berlaku baik. Semacam hadiah liburan. :D

Anak-anak sudah sangat bersemangat sejak pagi. Padahal kami menetapkan ke sana ba’da Dhuhur agar tidak jajan/nunut makan di sana. Tak enak hati kami, si pemilik PS sudah merelakan PS yang ia sewakan dipakai main gratis DnB sesuka hati tanpa bayar, masa iya harus memberi makan kami berempat. :D Sebenarnya sih mereka senang kami datang. Suami saya mas Indra teknisi komputer dan PS-nya. Semacam bonuslah.
Desti dan Binbin Susindra - 2 juara barengannya Susindra
Namanya hati senang, biarpun diledek juga tetep hepi banget. Pagi tadi, si Binbin (adek) yang lucu dan usil asyik mengusili mas Destinnya. Ini percakapan mereka:

"Sudah mandi.." teriak Destin dari kamar mandi.
"Sabunan, Tin..." teriak Binbin,
"Sudah.."
"Shamponan..." teriak Binbin lagi
"Sudah..."
"Sikatan..." teriak Binbin lagi
"Sabunan lagi..." teriak Binbin lagi. "Handukan...Sikatan.... Yang bersih..."
Selalu dijawab sudaah...
Aih...., anak sulungku kalo sudah dijanjiin boleh main PS sepuasnya hari ini ... ia akan jadi ANAK PALING SABAR SEDUNIA MESKI DIGODA ADIK/ORANG TUANYA. Padahal kalo diinterogasi seperti itu, semua juga pasti jengkel. Destin masih senyum-senyum bahagia. Tak ada gurat malu atau marah di wajahnya. Saya dan suami saling kedip mata dan tertawa saja.

Usai mandi, mereka berdua harus mengerjakan tugas belajar. Papa sudah menentukan mana-mana yang harus diselesaikan sementara saya asyik menjadi satpam warung blogger. Saya mengagendakan membersihkan daftar tunggu para blogger/nonblogger yang ingin menjadi anggota grup warung blogger. Minimal dapat membersihkan 100 daftar hari ini dengan mencaritahu apakah ia blogger atau bukan. Patut disayangkan, banyak blogger yang tidak sempat membaca cara diaprove ke dalam grup warung blogger. Juga, banyaknya pelangaran yag berakhir dengan diremove dari grup.

Jam 10 pagi, Binbin mulai berulah. “Harus belajar dengan mama” pintanya. Oke, saya hentikan semua aktivitas di facebook dan belajar dengan DnB kami. Jam 11 saya pamit masak untuk makan siang dan menitipkan pesan, “Siapa yang selesai mengerjakan tugasnya terlebih dahulu, mendapat uang saku 1000 rupiah di Kecapi. Mereka langsung semangat mengerjakan. Ups… ralat… Destin yang bersemangat. Binbin hanya ikut mengatakan “asyik…”.. tapi 2 menit kemudian asyik bermain dan menggambar.

Destin segera menyelesaikan soal yang diberikan papanya tadi sambil sesekali mengadu polah adiknya. Saya menjawab tegas, pengaduan = hukuman. Tak habis akal, akhirnya Destin membantu adiknya agar mau menulis. Sesekali terdengar suaranya membujuk adiknya agar mau menulis bagiannya. Karena masih diselingi mogok, akhirnya Destin membantu mengeja perhuruf agar Binbin tinggal menulis tanpa melihat ke buku. Rupanya aktivitas meniru tulisan masih sulit bagi anak TK A. Ini catatan khusus saya. :D

Dan…. Tepat sebelum semua masakan saya matang, Destin dan Binbin melapor. “Mama.. sudah selesai…. Jauara barengan!” Yep… that’s ma Boys. Mereka tahu cara saling mensupport agar sama-sama mendapat hadiah. Ini kejadian sehari-hari. Kompetisi di rumah Susindra selalu diakhiri dengan JUARA BARENGAN. Mengapa begitu? Sederhana saja. Saya selalu menekankan agar mereka selalu membagi uang jajan. Tak perduli uang saku siapa yang tersisa, jika mereka ingin jajan di rumah harus dibagi berdua agar tak ada yang menangis/iri. Jika Destin juara sendirian, rugi dong.. uang 1000 dibagi 2. Pun sebaliknya. So… juara barengan itu wajib. Bukan hanya hadiah bentuk uang, bentuk jalan-jalan pun harus mereka menangkan berdua karena tak ada yang mau ditinggal. Pernah sih, ada yang kalah. Saya mengalah menemani yang kalah di rumah. Tapi bagi mereka ternyata tak asyik pergi sendirian ke tempat rekreasi. Kirmah, katanya. Kirmah = mikir rumah. Xixixi…
Ketika saya menulis dan mengedit posting ini, mereka berdua sudah berinisiatif mengambil makan siang sendiri. Mereka ingin segera pergi ke Kecapi sekarang. :)

Bibir Ndower

"Mama.... ternyata temanku banyak yang bibirnya ndower..." Kata si sulung Destin sambil memasuki kamarnya. Itulah percakapan pertamanya setelah pulang sekolah dan mengucapkan salam kemarin. Rupanya, percakapan tadi malam ia masukkan ke dalam hati.

Ceritanya begini.... tadi malam Destin bertanya, mengapa bibir bawahnya lebih besar? Saya jawab dengan setengah geli, "Karena kamu suka gigit bibir kalo sedang kecewa sih...." Sebenarnya sih jengkel plus geli. Si sulung ini dulu bibirnya tipis pis pis.... tapi ia sering kecewa tanpa alasan jelas (baca PEKA) dan menggigit bibir. Berapa kali saya ingatkan, tetap tidak mempan. Namanya anak menjelang Abegeh.. mulai suka membandingkan fisiknya dengan fisik temanya. Ia mulai gelisah dengan porsi bibir bawahnya yang nampak tidak proporsional. Memang... adakalany aterlihat begitu. Apalagi ketika dia sedang kecewa dan njutem banget di ketika foto. Seperti contoh foto di bawah ini yang membuat Destin menyadari kendowerannya. Foto ini diambil ketika tes semster lalu dan dia diminta membawa foto terbaru untuk dipasang di pigura buatannya.
Wajah njutem (cemberut) bikin bibirnya terlihat ndower banget. :D

Mendengar kalimat pembuka percakapan Destin, saya langsung tersenyum (geli). Aslinya sih pengen tertawa ngakak. "Kok kamu tahu?" pancing saya. 
"Tadi aku melihat semua bibir temanku. Padha (sama - bahasa Jawa) ndower semua." jawabnya lugu. 
Hahahaha.... saya kontan tertawa tanpa halangan lagi. Halah.. bibir ndower saja kok sampai bikin riset dan pengembangan di rumah. Destiiin.... pengen kukucek-kucek rambut keritingnya.

Saya tidak bisa memberi solusi dan jawaban yang berarti untuk urusan ndower ini. mau jawab apalagi, coba? Yang penting Destin merasa nyaman saja, karena memiliki banyak teman berbibir ndower. Masa sih? Apakah saya harus membuat riset bibir ndower di sekolah Destin ya?

Itulah kisah foto yang ingin saya bagi hari ini. Terima kasih ya sudah mampir di sini. Pengen tahu tulisan saya yang lebih serius? Ada di Blogsusindra, Catatan Wanita, dan Jelajah Jepara.

Hello... How Are You?

Hello... how are you?
Saya baik-baik saja sekarang. Syukurlah langit mendung itu sudah berganti menjadi langit cerah. Kemarahan dan kekecewaan beberapa hari ini sudah banyak menghilang. It's monday. It's money day! So we have to grab it with all faith.
Setelah dengan banyak perjuangan yang lebih dari biasa, akhirnya Senin ini saya berhasil menyelesaikan beberapa pesanan. Ini pesanan yang agak berat bagi saya. Saya menyelesaikannya di antara kewaspadaan tiap kali hujan, karena genangan air di jalan sering masuk rumah. Hujan, kotor, menguras air, merelokasi alat kreasi flanel setiap malam.... bukan hal mudah untuk hati saya yang tengah retak. Di antara sebuah kemarahan pada dunia kecil saya yang selalu berusaha saya tekan. Ternyata pressure -nya sudah over limit dan butuh penyaluran. :0
Baiklah... semua perasaan itu sudah bayak hilang. It's monday! Ada 3 paket yang harus saya kirimkan dan ada 2 pesanan yang harus saya kejar deadline-nya. So.... saya mulai bekerja saja ya. Sementara saya bekerja, ayuk lah, lihat foto menggemaskan dek Binbin pada November 2011 lalu. Temanya tentang, "Papa... halo...." Cocok juga untuk Hello.... how are you hari ini.
Bergaya ala orang tua dengan telpon dari mouse

Itulah kisah foto yang ingin saya bagi hari ini. Terima kasih ya sudah mampir di sini. Pengen tahu tulisan saya yang lebih serius? Ada di Blogsusindra, Catatan Wanita, dan Jelajah Jepara.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More