SELAMAT DATANG DI RUMAH SUSINDRA

Destin (9 tahun) dan Binbin (5,5 tahun) tak bisa jauh dari pantai.

Bermain dengan balok kayu di laut? BISA!

Destin (9 tahun) dan Binbin (5,5 tahun) tak bisa jauh dari pantai.

Susi Susindra

Akhirnya kelihatan juga.

Destin Al Aqsha Pertama Susindra

Si sulung di keluarga Susindra

Bintang "BINBIN" Akbar Kedua Susindra

Anak kedua dan terkecil di keluarga Susindra

Kenangan 10 Tahun Lalu: Proses Kelahiran Bayi Destin

Sudah lama sekali saya tak menulsi di blog ini. Saya bahkan masih jarang menulis di blog utama blogsusindra. Hasrat menulis itu tak pernah padam, tetapi waktu dan perubahan konsep yang membuat saya sering bingung ingin menulis apa.

Sebagai tanda saya kembali, saya ingin bercerita tentang kenangan 10 tahun lalu. tepatnya 10 tahun kurang 17 haro lagi. Ya! Tanggal 19 November nanti adalah hari lahir anak sulung saya yang bernama Destin Susindra.

Destin selalu dibedong neneknya agar hangat
Si ganteng itu bernama Destin Susindra. Lahir pada tanggal 19 November 2004,  9 bulan 8 hari sejak pernikahan kami. Kelahiran yang maju 2 hari dari perhitungan dokter. Kala itu saya memang sangat lelah karena menjamu seorang tamu dari Perancis yang bernama Ives. Ia berkunjung ke perusahaan kami dan sebagai satu-satunya francophone (pemakai bahasa Perancis), saya harus kerja lembur. Padahal saat itu usia kehamilan saya sudah 9 bulan. Alhasil, di pojok belakang mobil ada sebuah koper besar berisi perlengkapan melahirkan dan suami saya ikut menemani touring kami mencari mebel. Benar saja, begitu kami mengantar tamu ke hotel, saya merasakan sakit yang sangat dan air ketuban keluar dengan deras. kami bergegas ke rumah sakit Graha Husada Jepara dan menanti dokter Gunawan datang.

Saat itu adalah tanggal 4 syawal. Para dokter mengambil cuti dan perawat mengatakan nanti akan ada dokter pengganti bernama dokter Sugeng. Kami sabar menanti sampai 1,5 jam dan akhirnya pindah ke rumah sakit bersalin Siti Khodijah. Ternyata dokter juga cuti. Perawat meyakinkan akan ada dokter pengganti bernama dokter Sugeng. Menyadari kesamaan nama dan tak mungkin sang dokter akan berada di dua rumah sakit, kami menuju ke rumah bidan terdekat rumah. Sebenarnya masih ada satu rumah sakit lagi, yaitu rumah sakit Kartini. Namun kami sudah terlanjur suudzon jangan-jangan dokternya juga cuti. Itulah resikonya tinggal di kota kecil dengan hanya ada 2 rumah sakit swasta dan satu rumah sakit umum.

Saya melahirkan di klinik bidan Mahmudah. Prosesnya cukup lama. Proses pembukaan sedemikian lama dan hampir semalaman. Menjelang pukul 4 pagi, akhirnya bidan mengambil keputusan memberikan suntikan perangsang kehamilan. Kala itu memang masih bebas digunakan. Usai memberi suntikan, tiba-tiba ada suara ketukan pintu dan sebuah keluarga masuk ke dalam klinik. Seorang wanita siap melahirkan. Melihat urgensinya, bidan membantu kelahiran wanita yang datang tadi. Tak berapa lama, saya melihat bu bidan keluar masuk kamar mandi. Drai keterangan ibu, say amengetahui bahwa si wanita tadi bab sangat banyak sekali. Ia yang istri nelayan harus bab di jamban alami di atas laut. Ia menahan tidak bab selama satu minggu sehingga kejadian lucu dan memalukan itu terjadi. Saya yang tengah kesakitan hanya bisa meringis karena geli. Saya tadi juga sempat bab di kamar mandi karena saya bisa membedakan sakit perut yang ini dan yang itu. Dan saya melakukan semuanya sendiri. Tsah.. bangga.
Posisi tidur favorit Destin

Akhirnya... kontraksi hebat yang mengantar kelahiran Destin datang. Bidan masih mengurus wanita itu ketika Destin lahir. Ibu sudah berteriak-teriak heboh memanggil bidan. Saya merasa lega sekali. Sakit itu tiba-tiba hilang. Suami saya yang berada di sana dengan sigap mengambil foto Destin yang baru lahir. Masih dengan darah dan plasenta yang ikut keluar. Sang bidan masih berada di kamar sebelah. Ibu sempat memarahi suamiku. Ahh.... saya mana peduli dengan hal-hal semacam itu. Saya merasa lega... saya merasa bebas... Dan saya ingin tidur sejenak.Detail tentang BB lahir Destin 3.5 Kg dan panjang 60 cm saya ketahui setelah tidur sejenak.

Bagaimanapun, kelahirannya kami sambut dengan penuh syukur dan bangga. kegembiraan yang amat sangat membuat saya segera lupa rasa sakitnya melahirkan. Papanya yang saat itu menggantikan tugas saya memandu seorang tamu dari Perancis selalu menyempatkan pulang sejenak untuk melihat anugrah terbarunya. Ternyata seperti itulah rasanya pertama kali memiliki seorang anak.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More